Selasa, 30 Desember 2008

Trouble Shooting Jaringan

Tanpa kemampuan untuk memonitor jaringan, administrator hanya dapat bereaksi terhadap masalah pada waktu mereka muncul, bukannya lebih dulu mencegah masalah supaya tidak terjadi.

Menjalankan dan memelihara fungsi suatu jaringan bisa menjadi mimpi buruk jika Anda tidak mengetahui mana yang bekerja dengan baik dan mana yang tidak. Terutama jika jaringan tersebar lebih dari ratusan kilometer persegi, di mana beberapa perangkat hampir tidak mungkin diakses, misalnya stasiun cuaca dan webcam.

Monitoring Koneksi
Salah satu bentuk paling mendasar dari monitoring koneksi berlangsung tiap hari pada jaringan. Proses user login ke jaringan akan memastikan bahwa koneksi itu sedang bekerja dengan baik atau jika tidak bagian jaringan akan segera dihubungi. Namun, ini bukanlah cara yang paling baik atau efisien dalam memonitoring jaringan yang ada. Tersedia program-program sederhana yang bisa digunakan oleh administrator untuk membuat daftar alamat IP host dan secara periodik mem-ping alamat tersebut. Jika ada masalah koneksi, program akan memperingati administrator melalui output ping. Ini merupakan cara yang paling kuno dan tidak efisien, tetapi masih lebih baik dibanding tidak melakukan apa-apa sama sekali. Aspek lain dari cara monitoring seperti ini adalah ia hanya memberitahu bahwa di suatu tempat antara stasiun monitoring dan perangkat target ada gangguan komunikasi. Gangguan bisa jadi router, switch, bagian jaringan yang tidak baik, atau memang host-nya yang sedang down. Tes ping hanya mengatakan bahwa
koneksi down, tidak di mana itu down.

Memeriksa semua host pada WAN dengan menggunakan monitoring semacam ini membutuhkan banyak resources. Jika jaringan mempunyai 3000 host, mem-ping semua perangkat jaringan dan host memakan resource sistem yang sangat besar. Cara lebih baik adalah hanya mem-ping beberapa host, server, router, dan switch yang penting untuk memastikan konektivitas mereka. Tes ping tidak akan memberikan data yang sebenarnya kecuali jika workstation selalu dalam keadaan menyala. Sekali lagi, cara monitoring seperti ini sebaiknya digunakan jika tidak ada lagi cara lain yang tersedia.

Monitoring Traffic
Monitoring traffic merupakan cara monitoring jaringan yang jauh lebih canggih. Ia melihat traffic paket yang sebenarnya dan membuat laporan berdasarkan traffic jaringan tersebut. Program seperti Flukes Network Analyzer merupakan contoh software jenis ini. Program tersebut tidak hanya mendeteksi perangkat yang gagal, tetapi juga mendeteksi jika ada komponen yang muatannya berlebihan atau konfigurasinya kurang baik.

Kelemahan program jenis ini adalah mereka biasanya hanya melihat satu segmen pada satu waktu dan jika memerlukan data dari segmen lain, program harus dipindahkan ke segmen tersebut. Ini bisa diatasi dengan menggunakan agent pada segmen jaringan remote. Perangkat seperti switch dan router bisa membuat dan mengirimkan statistik traffic. Jadi, bagaimana data dikumpulkan dan diatur pada satu lokasi sentral supaya bisa digunakan oleh administrator jaringan? Jawabannya adalah: Simple Network Monitoring Protocol.

Simple Network Management Protocol
Simple Network Management Protocol (SNMP) adalah standar manajemen jaringan pada TCP/IP. Gagasan di balik SNMP adalah bagaimana supaya informasi yang dibutuhkan untuk manajemen jaringan bisa dikirim menggunakan TCP/IP. Protokol tersebut memungkinkan administrator jaringan untuk menggunakan perangkat jaringan khusus yang berhubungan dengan perangkat jaringan yang lain untuk mengumpulkan informasi dari mereka, dan mengatur bagaimana mereka beroperasi.

Ada dua jenis perangkat SNMP. Pertama adalah Managed Nodes yang merupakan node biasa pada jaringan yang telah dilengkapi dengan software supaya mereka dapat diatur menggunakan SNMP. Mereka biasanya adalah perangkat TCP/IP biasa; mereka juga kadang-kadang disebut managed devices. Kedua adalah Network Management Station (NMS) yang merupakan perangkat jaringan khusus yang menjalankan software tertentu supaya dapat mengatur managed nodes. Pada jaringan harus ada satu atau lebih NMS karena mereka adalah perangkat yang sebenarnya “menjalankan” SNMP.

Managed nodes bisa berupa perangkat jaringan apa saja yang dapat berkomunikasi menggunakan TCP/IP, sepanjang diprogram dengan software SNMP. SNMP didesain supaya host biasa dapat diatur, demikian juga dengan perangkat pintar seperti router, bridge, hubs, dan switch. Perangkat yang “tidak konvensional” juga bisa diatur sepanjang
mereka terhubung ke jaringan TCP/IP: printer, scanner, dan lain-lain.

Masing-masing perangkat dalam manajemen jaringan yang menggunakan SNMP menjalankan suatu software yang umumnya disebut SNMP entity. SNMP entity bertanggung jawab untuk mengimplementasikan semua beragam fungsi SNMP. Masing-masing entity terdiri dari dua komponen utama. Komponen SNMP entity pada suatu perangkat bergantung kepada apakah perangkat tersebut managed nodes atau network management station.

SNMP entity pada managed nodes terdiri atas SNMP Agent: yang merupakan program yang mengimplementasikan protokol SNMP dan memungkinkan managed nodes memberikan informasi kepada NMS dan menerima perintah darinya, dan SNMP Management Information Base (MIB): yang menentukan jenis informasi yang disimpan tentang node yang dapat dikumpulkan dan digunakan untuk mengontrol managed nodes. Informasi yang dikirim menggunakan SNMP merupakan objek dari MIB.

Pada jaringan yang lebih besar, NMS bisa saja terpisah dan merupakan komputer TCP/IP bertenaga besar yang didedikasikan untuk manajemen jaringan. Namun, adalah software yang sebenarnya membuat suatu perangkat menjadi NMS, sehingga suatu NMS bisa bukan hardware terpisah. Ia bisa berfungsi sebagai NMS dan juga melakukan fungsi lain. SNMP entity pada NMS terdiri dari SNMP Manager: yang merupakan program yang mengimplementasikan SNMP sehingga NMS dapat mengumpulkan informasi dari managed nodes dan mengirim perintah kepada mereka, dan SNMP Application: yang merupakan satu atau lebih aplikasi yang memungkinkan administrator jaringan untuk menggunakan SNMP dalam mengatur jaringan.

Dengan demikian, secara keseluruhan SNMP terdiri dari sejumlah NMS yang berhubungan dengan perangkat TCP/IP biasa yang disebut managed nodes. SNMP manager pada NMS dan SNMP agent pada managed nodes mengimplementasikan SNMP dan memungkinkan informasi manajemen jaringan dikirim. SNMP application berjalan pada NMS dan menyediakan interface untuk administrator, dan memungkinkan informasi dikumpulkan dari MIB pada masing-masing SNMP agent.






Installasi Samba Server

Instalasi samba dilakukan dengan cara:
# rpm -Uvh samba-2.0.6-9.i386.rpm samba-client-2.0.6-9.i386.rpm samba-common-2.0.6-9.i386.rpm --force --nodeps

Mengeset samba server:

Editlah file smb.conf yang terletak di /etc/smb.conf

1. Untuk security level = share (tidak membutuhkan password dalam mengakses samba):
pastikan ada script ini:

security = share
domain master=yes
domain logons=yes
encrypt password=yes
security = share
lalu tentukan nama direktori yg dishare beserta pathnya (direktori yang ingin disharing) dengan option-optionnya.

contoh:
[my share]
comment = multimedia stuff
path = /home/master
public = yes
writeable = yes

2. Untuk security level = user (butuh password ketika mengakses samba):
sama dengan di atas, namun pada baris security isikan dengan kata user (security = user).

Lalu under command prompt (masuk ke shell) tambahkan beberapa user yang telah tercantum di /etc/passwd ke dalam file /etc/smbpasswd dengan cara:
smbpasswd -a -n

contoh:
[root@ltsp etc]# smbpasswd -a -n hari

Kita dapat mengakses samba server dari komputer windows, dengan menggunakan login hari dan dengan mengisikan password hari yang terdaftar di komputer linux.
Secara default user yg ditambahkan ke /etc/smbpasswd tidak memiliki password, kita bisa mengisinya dengan mengetikkan:
# smbpasswd

contoh:
[root@ltsp etc]# smbpasswd hari

Kita dapat mengakses samba server dari komputer windows, dengan menggunakan login hari dan dengan mengisikan password hari yang terdaftar di komputer linux.
Secara default user yg ditambahkan ke /etc/smbpasswd tidak memiliki password, kita bisa mengisinya dengan mengetikkan:
# smbpasswd

contoh:
[root@ltsp etc]# smbpasswd hari

3. Mounting file-file yang dishare di windows dari komputer linux
a. Mounting file2 yg ada di windows (dalam satu workgroup):
mount -t smbfs -o username=..., password=... //nama-komputer-windows/direktori-yg-dishare /mnt/mount-pointnya

contoh:
[root@ltsp etc]# mount -t smbfs -o username=guest,password=nedcom //"Kang andi"/nedcom /mnt/net

b. Berbeda workgroup:
mount -t smbfs -o username=...,password=..., workgroup=... //nama-komputer-windows/direktori-yg-dishare /mnt/mount-pointnya

contoh:
[root@ltsp etc]# mount -t smbfs -o username=hari,password=hehehe,workgroup=Lab-siskom //optik/master /mnt/net

4. Menggunakan smbclient
smbclient -L = untuk melihat direktori yang dishare di komputer windows
smbclient /// = masuk ke komputer windows pada direktori yang dishare dengan menggunakan format server ftp.

contoh:
[root@ltsp etc]# smbclient -L text
[root@ltsp etc]# smbclient //text/aborsi

Install Quagga di Debian

Quagga .. merupakan sebuah software dari zebra based, fungsinya masih tetap sama, menjadikan linux anda sebagai router dinamis! di sini kita akan mencoba membuat router dengan menggunakan quagga dan parameter router ospfd.

Pertama Install Quagga

root@debian:~# apt-get install quagga quagga-doc

setelah terinstall, copy file configurasi zebra dan ospfd

root@debian:~# cp /usr/share/doc/quagga/examples/zebra.conf.sample /etc/quagga/zebra.conf
root@debian:~# cp /usr/share/doc/quagga/examples/ospfd.conf.sample /etc/quagga/ospfd.conf

edit file konfigurasi daemons di /etc/quagga

cari kata-kata ini :



zebra=no
ospfd=no

rubah menjadi :

zebra=yes
ospfd=yes

lihat port berapa saja yang di gunakan oleh zebra dan ospfd

root@debian:~# netstat -nlptu | grep zebra
tcp 0 0 127.0.0.1:2601 0.0.0.0:* LISTEN 6524/zebra
root@debian:~# netstat -nlptu | grep ospfd
tcp 0 0 127.0.0.1:2604 0.0.0.0:* LISTEN 6528/ospfd

Restart Quagga

root@debian:~# /etc/init.d/quagga restart
Stopping Quagga daemons (prio:0): (waiting) .. ospfd (waiting) .. zebra (bgpd) (ripd) (ripngd) (ospf6d) (isisd).
Removing all routes made by zebra.
Nothing to flush.
Loading capability module if not yet done.
Starting Quagga daemons (prio:10): zebra ospfd.

Login ke OSPFD

root@debian:~# telnet localhost 2604
Trying 127.0.0.1…
Connected to localhost.
Escape character is ‘^]’.

Hello, this is Quagga (version 0.99.10).
Copyright 1996-2005 Kunihiro Ishiguro, et al.

User Access Verification

Password:

Password default : zebra

Enable Password : zebra

ospfd> en
ospfd# conf t
ospfd(config)#

setelah ini, kita cuma tinggal masukkan ip berapa yang ingin di routingkan, semisal

ospfd(config)# router ospf
ospfd(config-router)# network 192.168.1.0/24 area 0
ospfd(config-router)# wr
Configuration saved to /etc/quagga/ospfd.conf

keluar dengan mengetikkan exit

ospfd(config-router)# exit
ospfd(config)# exit
ospfd# exit
Connection closed by foreign host.

login ke zebra

root@debian:~# telnet localhost 2601
Trying 127.0.0.1…
Connected to localhost.
Escape character is ‘^]’.

Hello, this is Quagga (version 0.99.10).
Copyright 1996-2005 Kunihiro Ishiguro, et al.

User Access Verification

Password:
Router> en
Password:
Router# conf t
Router(config)# ip forward
Router(config)# exit
Router# sh ip ro
Codes: K - kernel route, C - connected, S - static, R - RIP, O - OSPF,
I - ISIS, B - BGP, > - selected route, * - FIB route

K>* 0.0.0.0/0 is directly connected, ppp0
C>* 10.64.64.64/32 is directly connected, ppp0
C>* 127.0.0.0/8 is directly connected, lo
O 192.168.1.0/24 [110/10] is directly connected, eth0, 00:02:11
C>* 192.168.1.0/24 is directly connected, eth0
Router# wr
Configuration saved to /etc/quagga/zebra.conf
Router#

Selesai … it’s easy !!

Membuat ROUTER static dengan linux Debian

Pengen tau gmana caranya? liat aja di bawah sini:

1.Komputer harus terinstal SO LInux Debian

2. Sediakan dua PC, satu sebagai Router dan satunya lagi sebagai Klien

3. Pada Login : isikan user Root dan masukkan Passwordnya

4. Setelah itu masuklah pada folder etc dengan mengetikkan cd etc

5. Kemudian masuklah lagi pada folder network dengan mengetikkan cd network

6. Apabila ingin menggunakan cara yang lebih praktis maka ketikkan cd etc/network

7. Kemudian ketikkan pico atau vi interfaces, untuk mengatur ip nya

8. Untuk vi interfaces pada Router ketikkan seperti dibawah ini

auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.10.36
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.10.255
network 192.168.10.0
gateway 192.168.10.1

auto eth1
iface eth1 inet static
address 192.168.15.1
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.15.255
network 192.168.15.0

iface lo inet loopback

9. Untuk vi interfaces pada client ketikkan seperti dibawah ini
auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.15.3
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.15.255
network 192.168.15.0
gateway 192.168.15.1

iface lo inet loopack

10. Kemudian aturlah ip tablenya dengan menggunakan cara, ketikkan pada pc Router -t
nat -A POSTROUTING -s 192.168.15.0/24 -j MASQUERADE

11. Setelah itu ketikkan ip tables-save

12. Lalu restart dengan menggunakan perintah /etc/init.d/networking restart

13. Untuk mengecek apakah ip tables sudah masuk maka ketikkan perintah iptables -t
nat -n -L

14. Setelah itu keluarlah dari folder network dengan perintah cd ..

15. Pada folder etc bukalah file sysctc1 dengan perintah vi atau pico sysctc1.conf,
Hapuslah tanda pagar (#) pada kata # net.ipv4.conf.default.forwading=1

16. Setelah itu lakukan ping antara Router dan client, apabila bisa diping maka pembuatan router telah berhasil

Kamis, 23 Oktober 2008

Konfigurasi Router


1. Konfigurasi Network
Pada konfigurasi yang pertama ini yang akan dilakukan yaitu memasang 2(dua) buah atau lebih ethernet card pada sebuah komputer yang nantinya akan dijadikan sebuah router. Setelah itu memberikan IP Address yang sesuai dengan desain jaringan yang sudah dibuat, sebagai contoh desain jaringan yang akan dilakukan pada percobaan router kali ini adalah:




Keterangan:
1. IP ethernet pertama (eth0) router adalah 203.111.106.1 dengan netmask 255.255.255.252.
2. IP ethernet kedua (eth1) router adalah 10.10.106.1 dengan netmask 255.255.255.0.
3. IP client 10.10.106.2 sampai dengan 10.10.106.11 dengan netmask 255.255.255.0, dengan default gateway 10.10.106.1.
2. Langkah-langkah Konfigurasi Network
Pada percobaan kali ini kami menggunakan distro linux Edubuntu server 7.04 yang merupakan turunan dari distro linux Ubuntu, maka untuk konfigurasinya pada Edubuntu server adalah sebagai berikut:
¬ Melakukan peng-editan pada file “/etc/network/interfaces” yang merupakan file yang akan melakukan penyetingan/edit terhadap IP ethernet, untuk melakukan edit maka dapat dilakukan dengan berbagai cara namun, sebagai saran lebih baik kita login sebagai “root/super user” dengan mengetikan perintah:
sudo su
setelah itu masukkan password anda, selanjutnya untuk edit file dapat dilakukan dengan berbagai text editor kesukaan anda seperti: pico/vi/nano/gedit. Namun pada percobaan kali ini kami menggunakan text editor “gedit” karena tampilannya sudah GUI, jadi perintah untuk melakukan edit terhadap file “/etc/network/interfaces” adalah sebagai berikut:
gedit /etc/network/interfaces
lalu tambahkan baris berikut:
auto eth0
iface eth0 inet static
address 203.111.106.1
netmask 255.255.255.252
network 203.111.106.0
broadcast 203.111.106.3
auto eth1
iface eth1 inet static
address 10.10.106.1
netmask 255.255.255.0
network 10.10.106.0
broadcast 10.10.106.11
¬ Setelah itu lakukan restart terhadap network, dengan mengetikan perintah berikut:
ketik /etc/init.d/networking restart

3. Konfigurasi Sebagai Router
Dikarenakan PC kita akan dijadikan sebuah router, yang berarti dapat melewatkan/meneruskan sebuah paket maka kita perlu menghilangkan tanda #
#net/ipv4/ip_forward=1
menjadi
net/ipv4/ip_forward=1
atau menambahkan
net/ipv4/ip_forward=1
pada file “/etc/sysctl.conf” dengan menggunakan text editor
gedit /etc/sysctl.conf
Selanjutnya untuk mengaktifkan konfigurasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan perintah:
sysctl -p
Karena internet hanya mengenal IP Public, maka jaringan komputer yang ada pada sisi client router yang bersifat local/private bisa juga digunakan untuk berinternet. Maka kita harus menggunakan teknik MASQUERADING, yang digunakan agar IP local/private tersebut diwakilkan oleh IP Public yang berada disisi router (eth0), untuk mengaturnya maka kita menggunakan perintah berikut:
iptables -t nat -A POSTROUTING -s 10.10.106.0/24 -d 0/0 -j MASQUERADE
perintah tersebut hanya bersifat sementara saja, yang artinya konfigurasi tersebut akan terhapus apabila komputer di restart/reboot. Untuk menghindari hal tersebut terjadi maka sebaiknya perintah tersebut disimpan pada file “/etc/rc.local”, untuk melakukan edit terhadap file tersebut dapat dilakukan dengan mengetikan perintah:
gedit /etc/rc.local
dan tambahkan perintah tadi kedalam file tersebut. Untuk mencek proses masquerading yang sudah kita lakukan dapat menggunakan perintah berikut,
iptables -L -t nat
4. Setting Firewall
Untuk melakukan setting pada firewall, kita dapat juga menggunakan perintah “iptables”. Sebenarnya perintah “iptables” merupakan perintah untuk melakukan setting firewall yang sangat ampuh, untuk itu kita menciptakan sebuah file baru dan mengisikan beberapa baris perintah pada file yang akan kita buat tadi. Untuk dapat mengendalikan dengan mudah firewall (dapat diaktifkan/dimatikan) maka kita perlu membuat sebuah script yang dapat dieksekusi oleh “root” atau dapat dijalankan secara otomatis pada saat proses booting kernel, untuk itu gunakan perintah berikut:
gedit /opt/iptables.script
selanjutnya ketikan baris berikut:
#!/bin/bash
iptables -A INPUT -p tcp -s 0/0 --dport 139 -j DROP
¬ iptables -A INPUT -p tcp -s 0/0 --dport 139 -j DROP
perintah ini berfungsi untuk memblok/menutup protokol yang mungkin memiliki celah untuk disusupi oleh intruder/penyusup.
lakukan proses simpan/save pada file tersebut, selanjutnya buatlah file tadi agar dapat dieksekusi dengan menambahkan mode eksekusi dengan menggunakan perintah,
chmod +x /opt/iptables.script
Selanjutnya kita membuat sebuah script yang menjalankan “iptables.script” yang sudah dibuat sebelumnya dengan menggunakan perintah,
gedit /etc/init.d/iptables-setting
selanjutnya ketikan baris berikut,
#!/bin/bash
if [[ $1 == start ]] ; then
sudo /opt/iptables.script
else
sudo iptables -F
fi
¬ Script diatas berfungsi untuk menjalankan/mengeksekusi file “iptables.script” dan juga menghapus/menghentikan batasan-batasan yang dibuat (firewall), hanya dengan mengetikan
/etc/init.d/iptables-setting start
(untuk start firewall)
/etc/init.d/iptables-setting stop
(untuk stop firewall)
lakukan proses simpan/save pada file tersebut, selanjutnya buatlah file tadi agar dapat dieksekusi dengan menambahkan mode eksekusi dengan menggunakan perintah,
chmod +x /etc/init.d/iptables-setting
Selanjutnya untuk membuat agar firewall dapat berjalan secara otomatis ketika proses boot loader linux maka kita harus melakukan update/menambahkan daftar start script yang akan dijalankan ketika proses boot loader dengan menggunakan perintah berikut,
update-rc.d iptables-setting start 20 2 3 4 5 . stop 99 0 1 6 .




MEMBUAT ROUTER PADA LINUX DEBIAN

~ Pertama –tama install computer dengan Linux Debian
~ Komputer harus memiliki 2 Buah Lan Card
~ Kemudian setting IP ke dua Lan card tersebut ,1 Lan Card disambungkan ke router (eth0) Satunya ke client (eth1) dengan masuk ke /etc/network lalu vi/pico interfaces,dan mengetik berikut ini:





Auto eth0
Iface eth0 inet static
address 192.168.10.1
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.10.255
network 192.168.10.0
auto eth1
iface eth1 inet static
address 192.168.5.1
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.5.1
broadcast 192.168.5.255
network 192.168.5.0
auto lo
iface lo inet loopback
~ Setelah semuanya sudah di ketik simpan dengan (:wq)
~ Kemudian restart ip tersebut dengan ketik /etc/init.d/networking restart
~ Untuk Memastikan Ip tersebut sudah masuk ,lihat dengan menggunakan ifconfig dan perintah route untuk mengechech gateway
~ Kemudian aktifkan ip forwardingnya dengan masuk ke /etc/sysctl.conf , lalu hapus tanda (#) pada ipforwarding di ipv4
~ Kemudian Routing dengan mengketik :
>iptables –t nat –A POSTROUTING –s 192.168.10.0/24 –j MASQUERADE
>iptables-save
~Kemudian lihat dengan mengetik perintah iptables –t nat –n –L
~Kemudian ping 192.168.10.1 pada computer klient.




Router

Router adalah sebuah alat jaringan komputer yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari stack protokol tujuh-lapis OSI.





Fungsi
Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Router berbeda dengan switch. Switch merupakan penghubung beberapa alat untuk membentuk suatu Local Area Network (LAN).

Sebagai ilustrasi perbedaan fungsi dari router dan switch adalah switch merupakan suatu jalanan, dan router merupakan penghubung antar jalan. Masing-masing rumah berada pada jalan yang memiliki alamat dalam suatu urutan tertentu. Dengan cara yang sama, switch menghubungkan berbagai macam alat, dimana masing-masing alat memiliki alamat IP sendiri pada sebuah LAN.
Router sangat banyak digunakan dalam jaringan berbasis teknologi protokol TCP/IP, dan router jenis itu disebut juga dengan IP Router. Selain IP Router, ada lagi AppleTalk Router, dan masih ada beberapa jenis router lainnya. Internet merupakan contoh utama dari sebuah jaringan yang memiliki banyak router IP. Router dapat digunakan untuk menghubungkan banyak jaringan kecil ke sebuah jaringan yang lebih besar, yang disebut dengan internetwork, atau untuk membagi sebuah jaringan besar ke dalam beberapa subnetwork untuk meningkatkan kinerja dan juga mempermudah manajemennya. Router juga kadang digunakan untuk mengoneksikan dua buah jaringan yang menggunakan media yang berbeda (seperti halnya router wireless yang pada umumnya selain ia dapat menghubungkan komputer dengan menggunakan radio, ia juga mendukung penghubungan komputer dengan kabel UTP), atau berbeda arsitektur jaringan, seperti halnya dari Ethernet ke Token Ring.
Router juga dapat digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah layanan telekomunikasi seperti halnya telekomunikasi leased line atau Digital Subscriber Line (DSL). Router yang digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah koneksi leased line seperti T1, atau T3, sering disebut sebagai access server. Sementara itu, router yang digunakan untuk menghubungkan jaringan lokal ke sebuah koneksi DSL disebut juga dengan DSL router. Router-router jenis tersebut umumnya memiliki fungsi firewall untuk melakukan penapisan paket berdasarkan alamat sumber dan alamat tujuan paket tersebut, meski beberapa router tidak memilikinya. Router yang memiliki fitur penapisan paket disebut juga dengan packet-filtering router. Router umumnya memblokir lalu lintas data yang dipancarkan secara broadcast sehingga dapat mencegah adanya broadcast storm yang mampu memperlambat kinerja jaringan.
Jenis-jenis router
Secara umum, router dibagi menjadi dua buah jenis, yakni:
• static router (router statis): adalah sebuah router yang memiliki tabel routing statis yang diset secara manual oleh para administrator jaringan.
• dynamic router (router dinamis): adalah sebuah router yang memiliki dab membuat tabel routing dinamis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga dengan saling berhubungan dengan router lainnya.

Router versus Bridge
Cara kerja router mirip dengan bridge jaringan, yakni mereka dapat meneruskan paket data jaringan dan dapat juga membagi jaringan menjadi beberapa segmen atau menyatukan segmen-segmen jaringan. Akan tetapi, router berjalan pada lapisan ketiga pada model OSI (lapisan jaringan), dan menggunakan skema pengalamatan yang digunakan pada lapisan itu, seperti halnya alamat IP. Sementara itu, bridge jaringan berjalan pada lapisan kedua pada model OSI (lapisan data-link), dan menggunakan skema pengalamatan yang digunakan pada lapisan itu, yakni MAC address.
Lalu, kapan penggunaan bridge jaringan dilakukan dan kapan penggunakan router dilakukan? Bridge, sebaiknya digunakan untuk menghubungkan segmen-segmen jaringan yang menjalankan protokol jaringan yang sama (sebagai contoh: segmen jaringan berbasis IP dengan segmen jaringan IP lainnya). Selain itu, bridge juga dapat digunakan ketika di dalam jaringan terdapat protokol-protokol yang tidak bisa melakukan routing, seperti halnya NetBEUI. Sementara itu, router sebaiknya digunakan untuk menghubungkan segmen-segmen jaringan yang menjalankan protokol jaringan yang berebeda (seperti halnya untuk menghubungkan segmen jaringan IP dengan segmen jaringan IPX.) Secara umum, router lebih cerdas dibandingkan dengan bridge jaringan dan dapat meningkatkan bandwidth jaringan, mengingat router tidak meneruskan paket broadcast ke jaringan yang dituju. Dan, penggunaan router yang paling sering dilakukan adalah ketika kita hendak menghubungkan jaringan kita ke Internet.